BANGGA DENGAN KALENDER HIJRIAH KALENDER UMAT ISLAM

Mukoddimah

Salah satu ciri khas dan syiar agama Islam yang saat ini masih sering diabaikan oleh kebanyakan kaum muslimin ialah penggunaan kalender hijriah. Kebanyakan kaum muslimin terlanjur terbiasa menggunakan kalender non-Islam dan terkesan sulit untuk lepas darinya. Diperlukan upaya yang serius dan terus-menerus untuk memasyarakatkan kalender Islam ini dan menghidupkannya kembali.
Telah banyak fatwa para ulama yang mengajak kita untuk menggunakan kalender hijriah dan melarang penggunaan kalender non-Islam, kecuali dalam kondisi mendesak dengan menyebutkan kedua kalender sekaligus. Maka, marilah kita hidupkan syiar Islam ini bersama-sama. Kita mulai dari diri kita sendiri sedikit demi sedikit. Kita coba pada sebagian aktivitas kita, kemudian kita kenalkan dan sosialisasikan kepada segenap kaum muslimin yang lain. Semoga apa yang kita usahakan berbuah pahala di sisi Allah Azza wa Jalla. Aamiin.

TANYA-JAWAB SEPUTAR KALENDER HIJRIAH

Mengapa Kalender Hijriah Lebih Baik?

Pertanyaan:
Apakah kelebihan kalender hijriah dibanding kalender-kalender yang lain sehingga menjadikannya lebih baik?

Jawaban:
Banyak kelebihan kalender hijriah dan keutamaan menggunakannya, di antaranya:
1. Kalender hijriah adalah satu-satunya kalender yang diakui oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. (QS. at-Taubah [9]: 36)
2. Kalender hijriah digunakan sebagai pedoman perhitungan waktu dalam semua ibadah yang berkaitan dengan waktu.
3. Menggunakan kalender hijriah berarti menghidupkan syiar Islam dan sunnah Khulafa’ ar-Rasyidin yang kita diperintah untuk mengikutinya.
4. Menghindari tasyabbuh (serupa) dengan orang-orang kafir yang diharamkan dalam Islam.
5. Mendapat pahala dari Allah Ta’ala jika diniatkan untuk menghidupkan syiar Islam dan menyelisihi orang-orang kafir.

Bagaimana Jika Terjadi Perbedaan Dengan Ketetapan Pemerintah?

Pertanyaan:
Bagaimana jika awal bulan hijriah yang ditetapkan pemerintah berbeda dengan yang tercantum di kalender?

Jawaban:
Sependek pengetahuan kami, semua kalender hijriah yang beredar di Indonesia saat ini bersifat perkiraan, untuk mempermudah kaum muslimin melakukan perhitungan waktu hijriah, baik untuk kegiatan ibadah maupun muamalah. Adapun untuk memastikan masuknya awal bulan hijriah sesuai tuntunan syariat, perlu dilakukan ru’yatul hilal (melihat bulan sabit awal bulan) secara langsung dengan mata kepala pada sore hari menjelang matahari tenggelam tanggal 29 setiap bulan hijriah. Jika hilal terlihat, berarti mulai masuk tanggal 1 bulan berikutnya. Jika tidak terlihat atau tertutup mendung, berarti belum masuk tanggal 1 bulan berikutnya, namun masih dianggap tanggal 30 bulan berjalan. Esok harinya baru terhitung masuk tanggal 1 bulan berikutnya.
Namun, saat ini pemerintah Indonesia baru melakukan ru’yatul hilal untuk beberapa bulan tertentu saja; yaitu Ramadhan, Syawwal, Dzulhijjah, dan terkadang al-Muharram. Meski seringnya terjadi kesamaan antara awal bulan yang ditetapkan pemerintah dengan yang tercantum di kalender, namun terkadang juga terjadi perbedaan. Jika terjadi perbedaan, maka yang wajib diikuti dan dijadikan pedoman ialah awal bulan yang ditetapkan pemerintah, sedangkan kalender harus menyesuaikan, dengan catatan jumlah hari dalam satu bulan berkisar antara 29 atau 30 hari. Adapun bulan-bulan lain yang pemerintah tidak melakukan ru’yatul hilal padanya, maka kalender bisa dijadikan pedoman.

Jika Kalender Hijriah Bersifat Perkiraan, Bagaimana Dengan Puasa Ayyamul Bidh?

Pertanyaan:
Bagaimana dengan puasa ayyamul bidh jika ternyata kalender hijriah bersifat perkiraan? Bukankah ada kemungkinan terjadi ketidaktepatan dalam penentuan harinya?

Jawaban:
Ayyamul Bidh ialah hari-hari putih yang jatuh pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriah, berdasarkan hadits Abu Dzar a\ berkata:

أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَصُوْمَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلَاثَةَ أَيَّامِ الْبِيضِ: ثَلَاثَ عَشْرَةَ، وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ، وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Rasulullah n\ memerintahkan kami untuk berpuasa pada tiga hari-hari putih dalam sebulan, yaitu hari ke-13, ke-14, dan ke-15.” (HR. an-Nasa’i 2422, ash-Shahihah 1567)
Maka disunnahkan untuk berpuasa pada hari-hari tersebut berdasarkan sabda Rasulullah n\ di atas.
Namun ada riwayat lain dengan redaksi yang umum, bahwa Rasulullah n\ bersabda:

مَنْ صَامَ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَصْدِيقَ ذَلِكَ فِي كِتَابِهِ: ﴿مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَا﴾ اليَوْمُ بِعَشْرَةِ أَيَّامٍ

“Barangsiapa yang berpuasa tiga hari setiap bulan maka itulah puasa sepanjang tahun. Allah Azza wa Jalla membenarkan hal itu di dalam kitab-Nya seraya berfirman: ‘Siapa saja yang melakukan satu kebaikan maka dia akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisalnya.’ Maka (kebaikan) sehari diganjar dengan (kebaikan) sepuluh hari.” (HR. at-Tirmidzi 762, dan beliau berkata: hadits ini hasan)
Maka hadits ini bersifat umum, baik tiga hari tersebut bertepatan dengan ayyamul bidh maupun hari-hari yang lain dalam sebulan, meskipun ayyamul bidh lebih utama karena ada hadits lain yang mengkhususkan penyebutannya. Keumuman hadits ini selaras dengan hadits yang lain dari Mu’adzah dari ‘Aisyah s\ berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ، قُلْتُ: مِنْ أَيِّهِ؟ قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّهِ كَانَ

“Rasulullah n\ biasa berpuasa tiga hari setiap bulan” Aku (Mu’adzah) berkata: “Di hari ke berapa beliau berpuasa?” Beliau (‘Aisyah) menjawab: “Beliau tidak peduli di hari ke berapa beliau berpuasa.” (Shahih Ibnu Hibban 3657, at-Ta’liqat al-Hisan 3649)
Berdasarkan hadits di atas, seandainya seseorang tidak tepat dalam menentukan hari pada puasa ayyamul bidh, sehingga ia berpuasa di selain hari ke-13, 14, atau 15, maka ia tetap mendapat keutamaan yang disebutkan di dalam hadits. Wallahu a’lam bish-shawab.

Apakah Kalender Hijriah Ditiadakan Saja Karena Jarang Digunakan?

Pertanyaan:
Sering kali kita jumpai kalender hijriah ini hanya dipajang di dinding dan jarang digunakan atau diterapkan untuk perhitungan waktu dalam keseharian kaum muslimin, terutama dalam muamalah sehari-hari. Apakah tidak sebaiknya ditiadakan saja karena jarang terpakai?

Jawaban:
Itulah fakta yang kita jumpai saat ini. Karena itulah diperlukan upaya yang cukup serius dan tekad yang kuat secara terus-menerus untuk menghidupkan syiar Islam ini. Meskipun faktanya demikian, namun kehadiran kalender hijriah di tengah-tengah kaum muslimin masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali yang akhirnya syiar Islam ini menjadi hilang. Juga masih lebih baik daripada secara total digantikan oleh kalender non-Islam. Semoga dengan selalu terpajangnya kalender hijriah di dinding-dinding rumah kaum muslimin, dinding-dinding masjid, dinding-dinding tempat/fasilitas umum, dan yang lainnya; sedikit demi sedikit akan menyadarkan mereka dan kita semua akan indah dan berkahnya kalender Islam ini. Setidaknya untuk saat ini mulai banyak digunakan untuk mengingat momen-momen penting tertentu dalam Islam yang sering kali terlewat tanpa kehadiran kalender hijriah, seperti hari Asyura (10 al-Muharram), hari Arafah (9 Dzulhijjah), Ayyamul Bidh (13, 14, 15 setiap bulan), dan yang lainnya.

FATWA PARA ULAMA TENTANG KALENDER HIJRIAH

Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah Lil Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’
Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa (Saudi Arabia)
Ketua: Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Hukum Menggunakan Kalender Masehi
Fatwa Nomor 20722

Pertanyaan:
Bolehkah berinteraksi dengan kalender masehi (ketika berurusan) dengan orang-orang yang tidak mengetahui kalender hijriah, seperti kaum muslimin non-Arab atau orang-orang kafir mitra kerja?

Jawaban:
Tidak boleh bagi kaum muslimin untuk menggunakan kalender masehi karena sesungguhnya hal tersebut merupakan bentuk tasyabbuh (menyerupai) orang-orang Nasrani dan termasuk syi’ar agama mereka.
Sebenarnya kaum muslimin walhamdulillah telah memiliki kalender yang mencukupi diri mereka, yang mengaitkan mereka dengan Nabi mereka, Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus ini merupakan kemuliaan yang besar. Namun apabila ada suatu kebutuhan yang mendesak maka tidak mengapa menggabung kedua kalender tersebut.
Wabillahit taufiq. Washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Pertanyaan:
Syaikh yang mulia, saya punya dua pertanyaan: Pertama, sebagian orang berkata, “Kami tidak mengedepankan kalender masehi atas kalender hijriah dengan alasan cinta dan tolong-menolong dengan orang-orang kafir, namun karena alasan kalender masehi itu lebih tepat dan lebih teratur dibandingkan kalender hijriah.” Mereka juga berkata: “Mayoritas negara-negara di dunia menggunakan kalender ini, maka kami pun tidak bisa menyendiri dan menyelisihi mereka.”

Jawaban:
Kenyataannya, sesungguhnya penentuan waktu dengan hilal merupakan kebutuhan pokok semua manusia. Inilah asalnya. Bacalah firman Allah Ta’ala:

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَهِلَّةِۖ قُلۡ هِيَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلۡحَجِّ

Mereka bertanya kepadamu tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah bahwa hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji. (QS. al-Baqarah: 189)
Maksudnya bagi seluruh umat manusia.
Bacalah juga firman Allah Ta’ala:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثۡنَا عَشَرَ شَهۡرٗا فِي كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوۡمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ مِنۡهَآ أَرۡبَعَةٌ حُرُمٞ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan. (QS. at-Taubah: 36)
Bulan-bulan apakah itu? Bulan-bulan itu adalah bulan-bulan yang berdasarkan hilal. Oleh karena itu, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menafsirkan empat bulan itu dengan bulan Rojab, Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan al-Muharrom. Inilah yang asal.
Adapun bulan-bulan yang saat ini digunakan manusia (kalender masehi) adalah bulan-bulan yang bersifat kira-kira dan tidak dibangun di atas dasar yang kuat dan jelas. Kalau saja patokannya adalah bintang-bintang yang ada di langit maka tentu akan jelas dasarnya. Hal itu karena bintang-bintang tersebut telah jelas posisinya di langit dan telah diketahui waktu-waktunya. Berbeda dengan bulan-bulan yang dibangun di atas persangkaan itu tidaklah punya dasar yang jelas dan paten. Terbukti sebagiannya ada yang 28 hari dan sebagian yang lain 31 hari. Tidak paten.
Jika kita sudah tahu hal itu, kemudian pada suatu kondisi kita terpaksa harus menyebutkan penanggalan masehi, mengapa kita serta merta beralih dari kalender hijriah yang syar’i menuju kalender yang tidak jelas perhitungannya dan tidak memiliki dasar yang jelas itu? Bukankah sangat mungkin kita menyebutkan penanggalan hijriah kemudian kita katakan bahwa tanggal tersebut bertepatan dengan tanggal sekian masehi. Kita lakukan ini karena kebanyakan negeri Islam ketika dikuasai oleh orang-orang kafir, mereka mengganti perhitungan waktunya dengan perhitungan waktu mereka (masehi). Tujuannya adalah untuk menjauhkan kaum muslimin dari perhitungan waktu Islam (hijriah) dan menghinakan mereka.
Maka kita katakan: Jika kita terpaksa harus menyebutkan penanggalan masehi, maka hendaknya yang pertama kali disebut adalah penanggalan hijriah, kemudian kita katakan bahwa itu bertepatan dengan tanggal sekian masehi.
Penanya bertanya: Kemudian masalah yang kedua, yaitu sesungguhnya sebagian perusahaan menyatakan bahwa kami tidak menggunakan kalender masehi ini karena menyukainya, tetapi perusahaan-perusahaan luar negeri yang menjalin hubungan kerjasama dengan kami menggunakan kalender masehi ini sehingga kami pun harus menggunakannya. Jika tidak maka kami akan termadhoroti dari sisi transaksi yang terjadi di antara kami. Maka bagaimana hukumnya?
Jawabannya: Hukumnya mudah saja. Apakah tidak mungkin kita menggabung antara kedua penanggalan itu dengan mengatakan: Aku dan fulan telah berjanji untuk ini dan itu pada hari Ahad yang bertepatan dengan tanggal sekian hijriah, kemudian sebutkan yang masehi. Apakah ini mungkin? Penanya menjawab: Tentu, itu mungkin. (Liqo’ al-Bab al-Maftuh)

Fatwa Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan

Pertanyaan:
Apakah menggunakan kalender masehi termasuk bentuk loyalitas kepada orang-orang Nasrani?

Jawaban:
Bukan termasuk bentuk loyalitas kepada mereka, tapi termasuk bentuk tasyabbuh (menyerupai) mereka.
Para sahabat Nabi n\ pun tidak menggunakannya padahal kalender masehi saat itu sudah ada. Malah sebaliknya, mereka berpaling dari kalender masehi dan menggunakan kalender hijriah. Ini merupakan dalil bahwa kaum muslimin wajib memisahkan diri dari kebiasaan orang-orang kafir dan tidak ikut-ikutan dengan mereka. Terlebih lagi bahwa kalender masehi termasuk lambang agama mereka yang menunjukkan pengagungan terhadap kelahiran Isa al-Masih dan perayaan atas kelahiran tersebut pada akhir tahun (masehi). Dan ini termasuk bentuk peribadatan yang dibuat-buat oleh orang-orang Nasrani (dalam agama mereka).
Maka kita tidak ikut andil dengan mereka dan tidak menganjurkan hal tersebut sama sekali. Jika kita menggunakan kalender mereka, berarti kita menyerupai mereka. Padahal kita sendiri sudah punya -alhamdulillah- kalender hijriah yang ditetapkan oleh amirul mukminin Umar bin Khaththab a\ bagi kita di hadapan para sahabat Muhajirin dan Anshar saat itu. Dan ini sudah sangat cukup bagi kita. (Al-Muntaqa min fatawa al-Fauzan 5/18, fatwa no. 153)

One Reply to “BANGGA DENGAN KALENDER HIJRIAH KALENDER UMAT ISLAM”

  1. Assalamu’alaikum.
    Ahamdulillah kalender hijriah tahun depan (1442) diinformasikan akan terbit.

    Semoga segera terbit, kami telah menunggunya.

    Jazakumullohu khoiron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *